Minggu, 22 November 2015

Hello Singapore


Mungkin banyak orang yang sudah sering datang ke Singapura. Memang, lokasi singapura tidak begitu jauh dari Indonesia, bahkan sangat dekat. Sejajar dengan provinsi Riau, membuat perjalanan ke Singapura tidak begitu terasa lama. Tiba di bandara Changi, aku malah merasa begitu jauh dengan Indonesia. Sejak di atas langit, aku melihat dataran kepulauan kecil yang begitu indah, namun berlubang di tengah-tengahnya. Ada pulau dengan hutan yang lebat, namun ada penampakan seperti cakaran yang membuat hutan hijau itu compang camping. Ada pulau dengan ukuran sangat besar, hutan rimba yang begitu indah, namun lagi-lagi terdapat bangunan pabrik di tengah-tengahnya. Entahlah, pulau apa itu namanya. Tetapi, saat pilot mengatakan kita akan segera landing di Changi, aku melihat gugusan pulau kecil dengan padang golf yang ditata sangat rapi dan sedap dipandang. Mungkin yang ini baru Singapura. 

Ya, kembali aku katakana, saat tiba di Changi, aku merasa begitu jauh. Tata kelola bandara yang begitu professional, infrastruktur yang baik, dan pelayanan yang begitu prima, membuatku merasa seolah kita ada di belahan negara yang sangat jauh. Tetapi, aksen Singlish yang begitu kental seolah mengingatkanku bahwa ini adalah Singapura. Ya, negara yang presiden pertamanya adalah seorang keturunan Minangkabau, Padang.

Lagi aku katakan, di sini semua nampak begitu cepat. Eskalator dibuat lebih cepat, orang-orang berjalan sangat cepat, pemeriksaan barang dilakukan dengan tanggap dan cekatan (cepat juga). No words for leyeh-leyeh, no words for woles-woles. Sedikit kaget juga, tetapi lama-lama aku pun sadar bahwa “ini lah yang membuat mereka bergerak lebih maju. Ya, mereka bergerak lebih cepat.”

Di Singapura memang lebih senang jika kita bertujuan untuk wisata mewah, wisata belanja, dan wisata bulan madu. Pemandangan kota yang dibuat cantik, gedung-gedung tinggi nan rupawan, serta pelayanan top adalah pemandangan umum di kota ini. Ya, Singapura adalah negara yang berkembang dari sektor jasa.

Bagi backpacker pemula seperti saya, pemandangan nan cepat seperti ini cukup menguras keringat. Belum lagi saya adalah anak gunung yang tinggal di kota Bandung; kota adem dengan hawa dingin, bandrek hangat dan surabi oncom pedas adalah pasangan klop di pagi hari. Cuaca panas di Singapura memang membuat saya sedikit kewalahan. Hasilnya, naik MRT adalah suatu hiburan tersendiri: AC.

Ya, bagi backpacker seperti saya pun biaya makan membuat saya sedikit geleng-geleng kepala. Setelah mengelilingi Merlion dan foto-foto ala-ala kekinian di depan Marina Bay, Orchard adalah tujuan kami untuk santap siang. Setelah keliling beberapa menit, akhirnya kami memutuskan untuk makan di satu rumah makan yang bernama “Ayam Penyet Ria”.

Ria? Penyet? Ayam? Ya, ini adalah restoran yang dimiliki orang Indonesia. Banyaknya orang melayu dan Indonesia yang tinggal di Singapura menjadi target pasar yang cukup tepat sasaran. Tak aneh, saat duduk di restoran ini, ada banyak wajah-wajah khas Suroboyo, khas Malang, khas Padang, Arab-Melayu, bahkan tampang Sunda seperti saya ini. Kasirnya tetap orang Chinese dan pelayanan tetap berbahasa Inggris. Tapi tetap dengan khas Singapura “How many person laaa?”, “Over there la, that desk over there is dirty laaa,~”

Makan di sini memang harus ikhlas. Dengan ayam penyet yang cukup untuk dimakan di siang dan malam hari, serta minum es jeruk satu gelas, kita harus ikhlas mengeluarkan kurang lebih 10 SGD. Di Bandung, dengan nilai uang 10 SGD, kita sudah bisa memesan nasi box ayam penyet 5 porsi (sudah dengan tahu tempe dan lalapan plus sambal terasi maknyos). Ya, harus ikhlas ya …

Tetapi jangan takut, kalau haus setelah makan, tak usah bingung beli air mineral. Cukup cari keran air minum yang tersedia di banyak titik, atau cari masjid terdekat (sedekat kawasan Bugis :’) ). Di sana air sudah steril dan siap minum. Bahkan di masjid, disediakan dispenser yang ada air dingin sedingin kulkas. Alhamdulillah …

Yang menarik di Singapura adalah kita tidak perlu kaget, tak perlu mencibir, atau tak perlu berdemo besar-besaran karena para orang tua yang sudah lanjut usia masih dipekerjakan. Ada yang menjadi petugas kebersihan, penunggu kamar kecil, petugas penitipan, atau petugas tiket di terminal. Gak perlu. Gak usah sedih. Gak usah bilang “dasar, ke mana anaknya nih? Udah tua begini masih disuruh kerja sampe malem, dasar anak durhaka!” atau bilang “ini bagaimana negara semaju ini orang tua masih harus bekerja?” atau berdemo di depan gedung sate sambil teriak “kita perjuangkan hak para orang tua Singapura, tuntut para kapitalis yang mempekerjakan orang tua di Singapura!” gak perlu mas. Capek. Gak perlu ya.

Di Singapura, para orang tua ini memang sengaja dipekerjakan. Pernah dengar cerita bahwa dahulu ada kabar seorang anak yang menelantarkan orang tuanya di rumah dan tidak diurus? Anaknya sibuk bekerja (karena kebutuhan di Singapura yang tinggi) lalu orang tuanya malah tak terurus?
Mendengar kabar ini, pemerintah lantas membuat kebijakan: orang tua boleh bekerja kembali di posisi yang tidak begitu berat. Memang, terkadang pensiun dianggap seperti “Waahh, aku sudah pensiun, saatnya aku menimang cucu, duduk-duduk di ruang depan sambil baca koran, memotong rumput taman, atau memandikan burung kenari yang aku pelihara”. Wew~ jika pensiunan ini adalah seorang mantan pejabat tinggi negara, bisa saja hal ini terjadi. Tapi, jika kenyataannya adalah bahwa para orang tua ini dulunya bukan pejabat negara, lalu apakah pensiun merupakan masa purnabakti yang menjanjikan kenyamanan? Tentu tidak. Tetapi kenyataannya, tetap bekerja bagi orang tua (orang muda juga) memberikan dampak positif karena tubuh terus bergerak. Malah kalo badan kurang gerak, penyakit gampang tiba kan?

Well, Singapura memberiku banyak pelajaran. Dari cara berjalan, cara bergerak, cara beli tiket, thank you di setiap pelayanan, dan tentunya ANTRE.

Di malam hari, saat kita menuju Bugis untuk naik bus ke Johor Bahru, kita melihat ada terminal kecil di sana. Katanya itu pool bus menuju Johor Bahru. Lalu kita mendatangi loket dan bertanya berapa harga tiket ke Johor Bahru. Tiba-tiba muncul kakek-kakek sambil sedikit membentak “Be queue up, be queue up!” Kita terhenyak sejenak, dan “ooohh” maksudnya disuruh antre. Memang saat kita lihat, ada antrean orang-orang yang hendak membeli tiket. Maafin ya kek, ane kagak tahu …

Antre menjadi budaya di sini. Tak peduli mau berdasi, mau ibu-ibu, mau anak gaul, mau orang kaya, mau pensiunan, mau backpacker, semua kudu antre. Value yang saya rasakan adalah “karena bukan kita yang urusannya harus selalu diutamakan”. Makanya antre. Tapi kalau inget di kota sendiri, kadang adaaaaa aja yang nyempil-nyempil dengan muka cuek tak berdosa seolah-olah manusia polos. Terus nyelak, terus ribut, terus kacau, apalagi kalo di pasar. Mohon maaf sebelumnya, tapi sebagai seorang anak lelaki yang gak bisa terlalu cerewet, biasanya ya ibu-ibu yang suka nyelak di antrean atau kerumunan. Dalihnya sih biasanya “Maaf ya dek buru-buru”, atau di undangan pas prasmanan terus pura-pura polos “Eeehh ibu Mawar, katanya anaknya bla bla bla … (lalu nyelak antrean)” atau “maaf ya dek anak saya udah nunggu”. Yah, kalo di kereta atau bus, memang ibu-ibu pasti aku utamakan dalam perihal duduk. 

Tapi kalo antre, please atulah ….

Anyway, kita naik bus sekarang menuju Johor Bahru. Perjalanan kurang lebih dua jam. Setibanya di kantor imigrasi, lagu mendiang Broery Marantika yang berjudul Jangan Ada Dusta Di Antara Kita terngiang syahdu …

Oh God, How I miss my country (baca: Oh God, lagu kita laris di sini) …


Bersambung ….

Gimana ya skripsi gue ...

Attack COC kaga ada wifi nih :(

Minggu, 15 November 2015

Mengapa Harus Berkelana

Pagi itu, aku sudah siap mengepak barang yang akan kubawa. Awalnya agak sedikit bingung harus menggunakan tas yang kecil atau tas yang besar. Tapi ternyata, dengan batas berat yang hanya 7 kg, tas kecil yang selalu digunakan untuk pergi ke kampus nampaknya sudah cukup. Well, barang-barang sudah siap dan mari berdoa terlebih dahulu.

Pagi sekitar pukul 06.30 aku berangkat ke bandara Husein Sastranegara. Ayahku mengantarku sampai pintu depan bandara. This was my first trip going abroad, and I was curious what would happen once I stepped on the immigration desk, boarding room, and then flying with the airplane. Setibanya aku di bandara, sudah ada Amanda, dan Rully, beserta para orang tua mereka. Satu lagi yang belum datang: Wan Abud Fadil Mohsin Alhadi.

Fadil pun datang, kami pun saling bersalaman dengan para orang tua. Intinya saling menitipkan. Karena perjalanan ini hanya kurang dari dua minggu, secara pribadi aku tidak merasakan haru yang begitu dalam. Apalagi ini trip. Tak apa lah, yang penting doa orang tua selalu menyertai. Amiin.

Kamipun memasuki bandara. Bandara Husein memang tidak besar, tapi alhamdulillah sedang ada renovasi dan pembangunan besar-besaran. Tanpa proses panjang, kami pun memasuki booth imigrasi, memasuki boarding room, dan tanpa menunggu lama, perjalanan kami pun dimulai. Pesawat Air Asia yang akan membawa kami sudah tiba dan siap lepas landas. Singapore, here we come!

Melihat Indonesia dari atas langit sangat menyenangkan. Pulau-pulau kecil yang unik, garis pantai yang luar biasa, serta pemandangan hamparan laut menjadi eksotisme negaraku ini. Ini memang bukan penerbangan pertama, tetapi ini adalah penerbangan pertamaku ke luar negeri. Para penumpang pun sepertinya hendak berlibur. Tak lama, hanya kurang dari dua jam, pilot sudah memberi tahu bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara Changi. Penerbangan lebih cepat satu jam, Gak tau apa karena pesawat gak macet atau karena cuaca lagi bagus. He he he



Akhirnya, kita pun tiba di Singapura. This is Singapore! Negara dengan luas yang kecil tetapi memiliki infrastruktur yang luar biasa. Meski hanya satu hari di Singapura, ada banyak hal yang aku pahami dan aku pelajari. Dan ini pula lah yang menjadi poin penting mengapa anak-anak muda harus berkelana, setidaknya ke negara tetangga sebelah saja dulu hehehe (dikutip dari beberapa blog)

1. Belajar Bahasa

Sebagai mahasiswa, kita sering sekali mendengar bahwa kita adalah agent of change. Agen perubahan yang dituntut untuk memiliki banyak kemampuan. Di sisi lain, kemampuan bahasa adalah suatu kebutuhan yang sudah tidak bisa dielakkan lagi. Apalagi aku mengambil jurusan bahasa Inggris, practicing my English skill here was the right decision. However, although I have been learning English for more than 4 years, I still need to be more sensitive and responsive to accent and dialect. Singaporean speak English, but, there are some adjustments between their culture and the English language itself; it creates Singlish. Terkadang, aku pun harus selalu bilang "pardon?", atau "can you say that again". Tetapi, secara keseluruhan, bahasa Inggris yang aku pakai dapat dimengerti oleh mereka.

2. Menghargai Waktu

Saat kaki ini melangkah di bandara Changi, menaiki skytrain ke terminal sebelah, lalu menggunakan kereta cepat untuk sekadar menuju Merlion, perlu tenaga ekstra sob. Kenapa? Karena semua harus dicapai dengan jalan kaki. Orang-orang di sini berjalan dengan cepat. Mereka sangat menghargai waktu. Sementara kebiasaan burukku adalah kita masih berleha-leha meski sudah naik motor, lalu berjalan pelan dengan gaya cool karena siapa tau ketemu adik tingkat yang gemes. Mungkin ini hanya persepsiku saja, tetapi, di sini semua nampak serius dengan tujuannya. Berjalan lambat hanya akan menjadi masalah: ketinggalan kereta, telat kerja, dipotong gaji, citra yang buruk. Dari yang awalnya  kita selalu nyantai, kini ritme langkah harus dibuat lebih cepat agar kita berdisiplin dengan waktu kereta.



Masih ada beberapa poin yang ingin saya ceritakan nih, tapi kita lanjut di entry selanjutnya saja ya. Thank you for reading :)

Kamis, 29 Oktober 2015

Sindrom Semester Akhir

Mungkin ini adalah momen di mana banyak mahasiswa tingkat akhir kebingungan. Saat skripsi yang dikerjakan tak kunjung selesai, saat bimbingan sulit dilakukan, dan banyak tagihan yang menguras pendapatan membuat para pejuang skripsi ini kelimpungan. Bagaimana tidak, sang gadis idaman selalu mengatakan bahwa rencana untuk menyempurnakan agama jangan hanya angan-angan. Ya itu semua butuh perjuangan, tetapi, bukankah kita harus menyelesaikaj tugas yang jelas-jelas ada di depan?

Mungkin ini hanyalah salah satu potret yang ada. Di sisi lain, banyak orang-orang yang nekad berbuat sesuai apa yang ia mau dan bekerja sesuai apa yang disukai. Banyak yang lantas menjadikan skripsi bukan prioritas utama, tetapi kewajiban yang pasti selesai. Namun saat situasinya terjal, apakah kita harus diam dan menunggu saja? Atau kita fokus membangun apa yang kita usahakan dan mencoba menuai apa yang kita perjuangkan?

Dan itu pun terjadi padaku sekarang. Apakah aku harus terus bersabar dan hanya menunggu? Atau berbuat dan bekerja sesuai passion yang aku suka?

Well, jawabannya adalah, mari kita keliling dunia dulu saja. Tunggu kisah selanjutnya ya ... Pagi ini aku menulis di kamarku, mungkin minggu depan aku sudah menulis di dormitori atau pinggiran Angkor Watt. Hehhe 


Rabu, 28 Oktober 2015

Kopi dan Skripsi

Yeay, akhirnya ...

Akhirnya bisa kesampaian menulis di kedai kopi sambil mengerjakan skripsi. Entahlah, mungkin ini salah satu keinginan sederhana yang sangat aku nikmati. Duduk ditemani kopi susu, musik yang asyik, dan juga tugas akhir yang harus dikejar. Semua berpadu menjadi suatu suasana yang nyaman.

Ya, ini adalah salah satu terapi sebenarnya. Karena mengerjakan tugas akhir di kamar yang sempit, dihalangi oleh dinding dan tentunya sendirian sedikit menyiksa. Meski jaringan wi-fi di rumah lebih kencang, suasana perempatan Braga dan hangatnya para pengunjung lain tidaklah tergantikan. Ya, Wiki Koffie jadi kedai yang sangat tepat. Dulu, aku duduk di sini saat menyelesaikan tugas terjemahan dari Naver Line. Tapi sekarang, aku kembali duduk untuk mengerjakan skripsi.

taken by me

Sebelum memulai tugas akhirku, ada sedikit cerita yang ingin aku bagikan. Cerita sederhana sebetulnya, hanya buah pikiran setelah sering berdiskusi dengan teman dari berbagai komunitas.

Saat itu aku sedang duduk di rumah Tria, lalu aku ditelpon oleh teman dari komunitas Sabalad, Pangandaran. Namanya kang Ai. Aku diajak untuk mengobrol tentang berbagai hal. Intinya sih silaturrahim. Kang Ai mengajakku mengobrol di daerah Gazibu.

Setibanya di daerah cisangkuy (karena gazibu sedang ramai karena banyak razia), aku lalu duduk bercengkrama. Ada teh Lina selaku perwakilan dari International Indonesia Working Camp. Obrolan pun dimulai. Sebetulnya hanya obrolan sederhana tapi berbobot.

Saat itu Kang Ai menanyakan padaku bagaimana tugas akhirku. Teman-temanku yang lain dari Unpad sudah pada beres dan lulus, hanya aku yang duduk di angkatan 2011 yang masih berkutat dengan skripsi. Aku jawab saja, masih bab 3.

Kang Ai lalu bilang "Gausah dulu banyak gaya dan sombong kalau skripsi saja belum beres" dengan nada bercanda.

Ya, akupun mengiyakan. Jangan dulu sombong atau banyak tingkah kalo skripsi saja belum beres. Skripsi memang tugas akhir yang menjadi mata kuliah, tetapi mengerjakannya butuh perjuangan.

Mengapa skripsi begitu penting? Saya bisa saja berpikir sedikit oportunis, pragmatis, atau bahkan naif. hahaha .... Isi skripsi sebetulnya ya bisa dibilang sama saja. Sama buat saya yang mengambil jurusan bahasa. Isi skripsi ga akan jauh dari metode mengajar, evaluasi, analisis teks, dan berbagai cabang linguistik yang lain. Isinya pun bisa dibilang sama saja. Mungkin judul yang aku tulis sudah pernah dimuat oleh orang lain, hanya saja lokasi dan fokus sedikit berbeda. Jadi apa yang membedakan?

Tanggung jawab.

Tanggung jawab dalam proses penulisan skripsi lah yang membedakan. Saya sadar akan hal itu. Skripsi untuk jurusan bahasa memang (perlu diakui) tidak serumit jurusan kimia atau fisika nuklir hehehe. Tetapi, proses penulisan yang melibatkan integritas dan kejujuran itulah yang membedakan. Banyak mahasiswa yang menggunakan jasa joki agar skripsinya cepat lulus. Ada yang beralasan sudah malas, sudah tua, sudah mandek, dan bla bla bla ...

Saya berpikir, apakah jika lantas skripsi kita selesai, lalu mendapatkan pengakuan, apakah kita bisa berbangga saat kita ingat bahwa skripsi kita dikerjakan oleh orang lain?

Sekarang pergerakan mahasiswa begitu bervariasi dan unik. Ada yang fokus di bidang politik, ekonomi kreatif, pergerakan, pemuda, pariwisata, dan berbagai isu yang hangat untuk dijadikan fokus kegiatan. Gak jarang pemuda menjadi sangat idealis. Tetapi, kalau ingat skripsi kita dikerjakan orang lain, apakah kita masih bisa seidealis itu?

Bukan bermaksud menggeneralisasi, tetapi memang potret yang ada seperti itu. Bisa saja kita terus menggaungkan mahasiswa sebagai agen perubahan, tapi jangan sampai agen kita ini malah su'ul khatimah (berakhir buruk) karena skripsi yang sebetulnya menjadi tolak ukur tanggung jawab dan kejujurannya malah dikorbankan hanya karena alasan "sudah capek".

He he he he

Kopi itu pahit, tapi sepahit-pahitnya kopi, kita bisa memadu-padankannya dengan bahan lain sehingga terasa nikmat.
Skripsi itu pahit, tapi sepahit-pahitnya skripsi, kita bisa memadu-padankannya dengan pengalaman dan pekerjaan lain sehingga terasa nikmat.

Yuk lanjut skripsian ....

di @wikikoffie

maaf bercampur antara saya dan aku ....

taken by me

Selasa, 27 Oktober 2015

Kembali Menulis

Sebenarnya ini adalah hal kurang baik. Mengapa? Karena menulis dalam benakku hanyalah kegiatan yang dapat dilakukan saat kosong dari berkegiatan. Lalu apakah sekarang ini kosong? Jawabannya tentu tidak.

Ada banyak kesyukuran yang aku alami sejak aku berhenti menulis. Kalau dilihat, tulisanku terakhir ada pada tahun 2012. Ya, mungkin blogku ini sudah menjadi ruang gelap berdebu yang dipenuhi dengan sarang laba-laba. Hehehe. Tetapi, aku meninggalkan kegiatan yang menyehatkan ini bukan karena malas. Tapi karena banyak petualangan yang aku alami.

Saat 2012 aku masih duduk di semester 3. Saat aku masih begitu ambisius dan masih merasa sedikit kecewa karena fakta kuliah yang aku rasakan bukan seperti yang aku idamkan. Saat masih duduk di bangku pesantren, aku selalu membayangkan bahwa kuliah adalah dunia akademis yang begitu dinamis. Dipenuhi dengan nuansa diskusi dan debat, membicarakan permasalahan masyarakat dari sisi sosial dan politik, lalu aktif turun ke lapangan membuat sedikit perubahan. Tapi ternyata, jurusan yang aku ambil tidak mengajari hal itu secara langsung. Aku banyak dihadapkan dengan materi bagaimana menjadi guru, membuat silabus, memahami kurikulum, membuat RPP, dan tentunya membuat evaluasi. Saat itulah pandanganku pada dunia kuliah sedikit bias.

Di situlah aku berubah pikiran. Lebih baik menyibukkan dengan berbagai kegiatan yang membuat pikiranku terbuka luas. Di sinilah aku memulai petualangan. Saat semester tiga, aku mencoba mengikuti kegiatan Model United Nations yang diadakan oleh Kemenlu. Bertempat di Asia Afrika, nuansa internasional begitu kental terasa. Kami berdebat seolah kami adalah para wakil negara yang sedang ruwet memikirkan berbagai masalah. Faktanya, aku hanya duduk diam dan sama sekali tidak berbicara di hari pertama. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku bukan anak HI meski ingin sekali kuliah di HI. Tapi aku bersyukur karena di sebelahku, Bang Sabir, anak HI Unhas, memberi tahuku tentang sistem dan teknik persidangan. Ya, inilah pelajaran pertama. Inilah tempat yang dulu aku idamkan.

Masuk di semester tiga pula, aku mengikuti kegiatan MUN yang sama, yaitu Diponegoro Model United Nations. Bekal yang aku bawa sejak ikut MUN di NuMUN (Nusantara MUN) kini mendorong diriku untuk memahami MUN lebih baik. Alhamdulillah aku mendapatkan Best Delegates saat itu. Meski aku sadari bahwa yang mengikuti DMUN bukanlah anak-anak HI yang sudah pergi ke luar negeri seperti saat aku mengikuti NuMUN. Ya, di sana hanya aku yang sudah berpengalaman. hehehe.

Tak apa, toh prestasi ini mendorongku untuk mengikuti kegiatan lebih banyak. Masuk semester empat aku mengikuti lomba pidato di Unpad. ALSA UNPAD tepatnya. Dan dari sana pula aku mendapatkan juara 2. Jujur, rasa percaya diriku semakin bertambah. Hingga inilah yang mendorongku untuk mengikuti MUN kembali di UI. Lalu mengikuti ALSA kembali di UI. Intinya, hampir tiap semester aku selalu pergi ke luar. Jatah bolos tak pernah aku sia-siakan. hehehe

Masuk semester lima, aku lebih betah di kampus. Terpilih sebagai ketua himpunan membuatku lebih banyak tinggal di kampus. Tapi aku bersyukur pula karena dari situ aku diterima sebagai salah satu penerima Beswan Djarum. Ya, lagi-lagi jatah bolos tak akan aku sia-siakan.

Masuk semester enam, aku lebih asyik di dunia wirausaha. Program PMW yang aku impikan sejak mahasiswa baru kini aku raih. Alhamdulillah usaha skala mahasiswa yang aku jalani ini berjalan baik. Hingga memasuki semester 7, aku masih menjalankan usaha ini.

Semester 7 aku coba menjajal kemampuan di dunia kedutaan. hehehe. Ya aku mencoba untuk daftar di Duta Bahasa Jawa Barat. Setelah melewati proses yang sangat panjang, aku mendapatkan juara 1 dan mewakili Jabar ke tingkat nasional. Mimpiku tercapai! aku mewakili Jabar ke ajang nasional. Dan di sana aku mendapatkan juara harapan 3. Akhir tahun aku mencoba mengikuti lomba fahmil quran di Telkom. Dan alhamdulillah untuk regional Jabar aku mendapatkan juara 2.

Masuk semester 8, kesibukan usaha, PPL, dan skripsi sangat menyita waktuku. Semester 8 nampaknya aku harus sedikit bersabar karena PCMI yang sejak lama aku usahakan tidak berhasil menjadi pencapaianku. Tak apa-apa. Semoga menjadi pelajaran bagiku.

Masuk semester 9, kini aku hanya berkutat dengan skripsiku saja. Tentu ini adalah bagian yang paling menantang bagiku. Karena jika skripsi terus berlarut-larut, aku susah bergerak. Banyak program di depan yang menantiku dan aku ingin mencapai itu kembali.

Mungkin ini pula alasan mengapa aku tidak kembali menulis. hehehe. Terkadang terharu juga jika membayangkan bagaimana saat masih semester muda dulu berjibaku di berbagai kegiatan. Niatku menulis bukan untuk pamer atau riya. Aku hanya ingin refleksi, melakukan self-healing karena selama ini aku selalu merasa bingung. Selalu merasa bahwa apa yang aku lakukan sekarang mengurung kreatifitasku. Semoga skripsi ini cepat selesai, setelah itu, mari kita berpetualang lagi!

Rabu, 10 Oktober 2012

Attitude

Setelah sekian lama beristirahat dari dunia "blogging" kini kembali lagi ke dunia yang menyenangkan ini. Ya, menulis memang jadi kegiatan yang saya sukai. Kini, setelah sekian lama tidak menulis, bukan karena saya tak ingin menulis lagi, tapi mencoba membentuk karakter yang harus lebih baik. Bukan menjadi tidak "konsisten" tapi, perubahan itu harus terus mengarah pada hal yang lebih baik. Bila kita konstan dalam hal yang "kurang" baik, kenapa kita harus terus bertahan? Nah, perubahan harus membawa pada kebaikan. Perubahan pikiran, atau pun perilaku.

Dari judul yang udah saya tulis diatas, saya ingin mengangkat satu topik yang bernama attitude. Attitude memang banyak kriterianya. Dari mulai jujur, tanggung jawab, amanah, dapat dipercaya, menepati janji dan lain sebagainya. Yang ingin saya bahas disini adalah menjaga ucapan dan kata-kata. Baik dunia nyata maupun maya.

Kemarin saya bertemu dengan seorang rekan. Saya sering berdiskusi dengannya mengenai banyak hal. Hingga pada suatu titik, dia menyampaikan tentang suatu hal yang menurut saya cukup men-distract perhatian dan concern saya. Suatu post dan komentar di facebook yang membawa kerugian menjadi pembicaraan kami. Saya mendengar banyak hal darinya. Dan ternyata, komentar tersebut dibaca oleh pihak atasan dan pihak pimpinan. Saya amat kaget dan terkejut ketika mendengar berita itu. Intinya, apapun yang kita tulis, di facebook atau twitter, harus dijaga dan ditimbang sebaik mungkin. Jangan sampai malah merugikan diri sendiri dan orang lain.

Meski ilmu, materi, jabatan, wibawa, penghormatan, dan prestasi kita sudah bagus, menjaga lisan itu tetap jadi prioritas. Attitude itu lebih mahal harganya. Karena attitude tidak diajarkan dalam bentuk program per-sks. Ia didapat melalui proses panjang. So, jaga attitude.

Rabu, 22 Agustus 2012

Gerakan

Mungkin saat ini banyak hal yang menari-nari dalam pikiranku. Setelah "kemarin" berjuang untuk meneriakan "proklamasi" kini kembali pada rutinitas dan kegiatan sebagai mahasiswa. Yah, mahasiswa memang tidak pernah disandingkan dengan analogi statis, stagnan, atau diam. Selalu ada hal menarik bila menelisik kehidupan mahasiswa. Saking menariknya, terkadang mahasiswanya sendiri suka tertarik dan tenggelam. Tinggal pilih aja sih, tenggelam dalam kebaikan atau sebaliknya ... choose it wisely :)

Sering banget gue liat perkumpulan pergerakan pemuda yang mengatas namakan perubahan. Perubahan Indonesia, perubahan pemuda, perubahan bangsa, dan perubahan-perubahan yang membawa kita kepada jalan kebaikan. Tapi kadang, yang gue liat, kebanyakan dari kita malah keasyikan dalam konferensi dan seminarnya saja. Hmm .... (ngaca juga sih) saatnya membuat sebuah gerakan yang nyata. Meski itu hal kecil, hal mudah, hal simpel, dan bahkan tidak diliput media besar sekalipun, perubahan harus terus diperjuangkan. Jangan cuma ngiler kalo udah "basah" atau ternama. Jangan mau gerak kalo gerakan itu udah tenar dan sering diliput media. Setiap perubahan kebaikan akan tetap berpengaruh kok, gak mesti masuk televisi atau media gede. Setiap titik udara yang kita hirup juga membuat perubahan di semesta, apalagi teriakan, atau nyanyian ?

Sekarang sudah semester tiga nih sobat blogger. Semester ini mesti re-arrange ulang goal-goal dan resolusi yang udah ditulis diawal tahun kemarin. Banyak tantangan pastinya, dan pastinya menantang pula. Tantangan akademis, tantangan organisasi, tantangan finansial, tantangan gerakan, dan tantangan untuk jadi lebih dewasa. Pemanfaatan waktu harus bener-bener optimal kalo kita memang pengen mendapatkan hal lebih. Kata lainnya, kalo pengen hasil lebih, yaa usahanya juga harus lebih.

Banyak kerjaan didepan mata. Kalo gak bijak mengatur waktu, bisa terbuang sia-sia nantinya ...

Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, dan mereka yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran ....

Tuhan gak akan ngasih kita kesempatan buat balik ke masa lalu untuk merubah masa depan, tapi Dia selalu memberi kita kesempatan untuk memulai kembali dari awal demi akhir yang lebih baik ....


Rabu, 15 Agustus 2012

Hei Kamu

Aku tahu manusia diberi pikiran dan akal oleh Tuhan. Mungkin saat ini, fungsi akal itu tidak berjalan secara normal. Mengapa? Aku terdiam dalam sebuah perjalanan. Perjalanan penuh tantangan, cobaan, dan kadang hal-hal yang tidak dapat dikira sebelumnya. Perjalanan yang menurutku masih bisa berubah arah dan haluannya. Namun tak apa, aku merasa hal ini bukan hal janggal. Setiap manusia merasakannya. Setiap yang bernyawa pasti mengalaminya.

Namun, tahukah bila apa yang sedang aku usahakan terkadang bias. Ketika aku ingin menunjukkan A, maka yang tampak adalah B. Ketika aku ingin memberikan C, maka yang terlihat adalah D. Aku tahu, itu sangatlah sulit ditebak. Terkadang aku merasa apa yang aku usahakan selama ini akan membuyar. Tapi terkadang ada keyakinan dalam diriku bahwa aku mampu melewati ini dan meyakinkan semuanya. Namun entahlah, hingga saat ini, aku melihatnya masih banyak teringat dengan hal-hal yang ia lalui. Bersamanya. Hal itu memang manusiawi. Terkadang, akupun demikian.

Aku hanya ingin memulai perjalanan baru. Dengan keyakinan, dan dengan seseorang yang mampu mendengar keluh kesahku, mendengar gagasan gilaku, berbagi hal senang atau susah, melewati masa pahit atau manis. Yahhh ,,, melewati segala takdir Tuhan bersama. 

Melihat semua yang terjadi, aku hanya bisa menggunakan hal terakhir yang aku punya. IKHLAS. Yah, aku hanya bisa ikhlas. Meski ku tahu ikhlas adalah hal tersulit bagi siapapun dalam kondisi apapun. Ikhlas menerima apa yang terjadi, apa yang belum terjadi, dan apa yang akan terjadi. Aku sudah ikhlaskan semuanya. Bagaimanapun hasilnya nanti, bagaimanapun yang terjadi, aku sudah ikhlaskan. Semua yang aku usahakan, semua yang aku perjuangkan, aku sudah ikhlaskan. Mungkin pembuktianku kurang cukup kuat untuknya. Tak apa, aku sudah ikhlaskan.

Yap … ikhlas, atau belajar ilmu ikhlas. Biar hati kecil ini yang menuntunku. Akan kudengar sekecil apapun teriakan dan ucapan. Dan, semua ini harus diakhiri dengan

Keikhlasan.

Sabtu, 21 Juli 2012

Entah apa judulnya

Lama banget nih gak share lagi ama sobat blogger. Yeah.. kemarin emang lagi bener-bener disibukkan dengan banyak kegiatan. Dari mulai ngurus P2M, sampai Model United Nations di Universitas Diponegoro. Semuanya memang banyak menyita perhatian bahkan tenaga. Tapi dari ini semua, gue bener-bener bersyukur banget. Udah dikasih kemudahan dan kesehatan. Sampai akhirnya, semua acaranya sukses dan lancar.

Kadang manusia punya sisi yang orang lain tidak ingin tahu. Itu dapat dideteksi dari tulisan, perkataan, dan kebiasaan yang dia lakukan. Mungkin hal itu terjadi juga ama gue. Beberapa saat ini, untuk menuangkan pendapat, pikiran, dan ide dalam tulisan harus benar-benar tersaring dan terjaga. Banyak spekulasi dari orang-orang di sekeliling kita. Yang bisa jadi menguntungkan bahkan merugikan. Menguntungkan apabila spekulasi itu mendorong kita untuk menjadi lebih maju, merugikan apabila spekulasi itu hanya bersifat penilaian subyektif. Subyektifitas yang berisi penilaian negatif.

Gue bener-bener tertarik ama statement ini

Hati-hati dengan ucapanmu karena itu bisa menjadi pemikiranmu
Hati-hati dengan pikiranmu karena itu bisa menjadi tindakanmu
Hati-hati dengan tindakanmu karena itu bisa menjadi kebiasaanmu
Hati-hati dengan kebiasaanmu karena itu bisa menjadi nasibmu
Hati-hati dengan sikapmu terhadap nasib, karena itu bisa menjadi takdirmu ....

Hebat ....

Jumat, 15 Juni 2012

PCMI (3)


Setelah menyelesaikan sesi interview panel, gue ama tim gue beranjak menuju ruang debat. Ketika masuk ruangan, sudah ada Adjudicators dan peserta lain yang akan melawan tim kami. Kami melihat raut wajah mereka, santai tapi seolah siap menerkam kami. Gue gak tahu apa-apa soal debate especially pake bahasa Inggris. Waktu latihan di EDC juga gue cuma jadi adju dan gak ikut cas-cis-cus latihan debat. Disaat kaya gini, akhirnya gue pake jurus andalan gue. “Pura-pura bisa”. Gue langsung gabung ama tim dan siap-siap ngobrolin apa yang mau didebatin. Setelah adju ngasih topic yaitu “University student protest” kita masuk ruangan lain buat case building. Disitu gue ama tim ngerangkai apa yang bakal kita pertahanin dan mana yang bakal kita kritisin. Sebagai opposite team, kita harus matahin argument dari tim lawan. Setelah beres case building, kita langsung masuk ruangan debat dan memulai sesi.

Sesi debat dilakukan parallel. Setelah tim lawan membuka debat, selanjutnya tim kami bergiliran memberikan argument, lalu tim lawan, lalu tim kami, dan seterusnya. Ketika giliran tiba ama gue, gue berdiri dan langsung cas-cis-cus sekenanya. Emang agak gugup, tapi disaat kaya gini gue harus stay cool and confident. Beres ngasih argument, gue langsung duduk dan menghela napas panjang. Akhirnya …..

Setelah sesi debate selesai, kita langsung menuju ruangan aula buat nunggu penampilan seni budaya. Ini yang gue tunggu-tunggu. Gue langsung latihan beberapa lagu yang udah gue coba dirumah. Ada yang bawa Ronteng (Saron Tengteng), suling bamboo, biola, gitar, bahkan ada yang nyiapin Hip-hop Dance. Kalo udah kaya gini, gue ngerasa semangat banget. Atmosfir seni kerasa banget di sesi ini.

Panitia membuka pintu dan mempersilakan kami masuk ke aula. Disana udah ada kelompok lain yang lagi perform. Ada yang nampilin tarian, bahkan ada yang menyanyikan lagu “Abi teh ayeuna gaduh hiji boneka”. Mungkin penampilan kesenian memang menjadi kendala bagi beberapa orang. Kalo ngebahas diskusi, debat, atau pengetahuan lain banyak yang antusias. Tapi ketika berhadapan dengan penampilan seni budaya, banyak yang bingung mau ngapain.

Setelah giliran tim kami tiba, satu persatu dari kami dipanggil kedepan. Yang siap buat penampilan, mereka keliatan pede pas perform. Lucunya, bahkan ada peserta yang saat itu baru dateng banget dari Jakarta ikutan demo kenaikan BBM. Dia bilang gak ada persiapan apa-apa buat ini semua dan dia bakal tampil seadanya. Dia nampilin lagu Bubuy Bulan pake gitar sambil ngelucu. Pas ditanya bisa nari apa gak, dia jawab “Saya bisa silat!”. Langsung dia praktekin gerakan silat yang juga sekenanya. Juga ada seorang pemuda yang ternyata seorang staff ahli anggota dewan di bidang ekonomi. Dia nampilin ceramah ala MZ pake Bahasa Sunda. Baru kali ini gue liat ada pendemo dan yang didemo bersatu dan bersahabat disini. Ada pula seorang pemuda yang nampilin story telling pake Bahasa Prancis. Gue makin bergidik liat orang-orang hebat disini.
Akhirnya nama gue dipanggil. Gue langsung menjinjing calung dan suling yang udah gue siapin. Setelah ngasih sedikit penjelasan apa itu calung, gimana cara maennya, dan macem-macem calung pake bahasa Inggris, gue mulai penampilan gue dengan tiupan suling lalu calung pun gue pukul…..



Alhamdulillah penampilan kali ini respon  yang gue dapet baik. Penonton ngasih support dengan tepuk tangan. Pas ditanya bisa apa aja, gue jawab apa yang gue bisa. Dari suling, harmonica, organ, gitar, bass, dan alat music lain yang gue bisa. Pas ditanya “bawa gak alatnya?” gue jawab “Enggak,” para penguji bilang “Waah, kenapa gak dibawa?" Gue juga bingung, soalnya yang gue siapin kesenian sunda. Ya alat-alat music lain nangkring dirumah gak kemana-mana. Seorang penguji nanya lagi, “Kamu bisa apa lagi?” Inget seorang peserta nampilin story telling pake bahasa Prancis, gue ada ide buat bacain broadcast pake bahasa Arab. 

Dan penguji pun mempersilakan,

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kaifa halukum ayuha thalabah? Hal antum bikhair? Aiwah …
Alyaum assabt ala asyir min marisy sanata alfaini wa istna asyr. Yaqumu baina hadratikum jami’an ahadu rijali min qismil I’lamil markazi limunazomati tholabati Darissalamil hadist, littarbiyatil islamil hadistah Guntur Funuruqu.
Litabligikum al’idza’ah alyaumiyah allati tasymalu ala I’lanatin syatta wa da’waatin idadah wa risalati addu’.
Tamhidan waftitahan lihadzihi nasyrah al arabiyah uballigukum awala alihi risalata addua.
Ikhwati… kunnal ana fi halatil huzni wal ka’abah. Anna min ba’dhi ikwatinal madzkurah asma’ahum adna hadzihil waraqah qod ashobahumu saqam hatta layaqdiru ala ta’diyati wjibatihim alyaumiyah ….
Abis gue bacain broadcast, penguji cuma diem-diem aja. Wajah mereka bilang gak ngerti apa yang gue ucapin tadi. Broadcast tadi emang biasa gue denger pas masih sekolah di Madani setiap harinya. Ternyata, pengalaman itu bisa gue praktikin disini.Hhehehe ….

Seorang penguji nanya lagi, “Tadi kamu bilang bisa main gitar, coba praktikin. Itu peserta yang punya gitar, coba pinjam sebentar.” Wah .. gue bingung, gue gak bisa nyanyi. Tapi kalo maen gitar bisa aja, gue bingung harus tampil apa. Gue inget lagu instrument Depapepe yang judulnya Start. Yaudah, gue nyari aman aja, secara lagunya Depapepe gak ada nyanyinya. Alhamdulillah penampilan beres dan memuaskan.

Beres penampilan seni budaya, gue beranjak  ke sesi presentasi dan interview pribadi. Waktu ketika itu udah ampir jam 4 sore. Kami udah pada capek nunggu, tapi ya buat program kaya gini, semua harus siap.

Disesi interview pribadi ini, gue ada cerita. Pas nunggu giliran dipanggil satu persatu, para interviewee mengeluh tentang pertanyaan yang diajukan. Soalnya mereka ditanya pengen ke  Negara apa untuk program ini, dan ditanya siapakah Perdana Menteri negara tersebut. Yang pengen ke Korea ditanya siapa PM Korea, yang pengen ke Kanada siapa PM Kanada. Gue ketika itu milih pengen ke Australia, lalu gue nanya ama temen gue yang tadi stortel pake bahasa Prancis, siapa PM Australia. Dia bilang, Julia Gillard. Berebapa detik gue nanya itu, gue langsung dipanggil.

Dalem ruangan interview, gue ditanya segala hal dari mulai motivasi ikut program ini, apa rencana kamu kedepan, apa yang akan dilakuin kalo keterima dan pertanyaan lainnya. Gue jawab semuanya dengan tenang. Alhamdulillah gue ngerasa lancar banget pas ngejawab. Dan ketika penanya bilang

“Okay, now is the last question. Who is the prime minister of Australia?”

Dengan yakin (baru nanya barusan) gue jawab “ Julia Gillard,”

Penanya langsung ketawa ngakak dan bilang “Good, from all participants, they couldn’t answer this kind of question. See you at the next session. Good luck!”

Gue ngos-ngosan keluar ruangan….

Dan ngakak ama temen yang gue tadi tanya, “Untung gue nanya ama lu! Hahaha,”

Rabu, 13 Juni 2012

Sabang, Ujung Indonesia Dalam di Hati

Indonesia memang tidak akan pernah  habis bila diceritakan. Apalagi keindahan alam dan panorama yang luar biasa ternyata masih banyak yang belum terjamah oleh manusia. Bahkan beberapa ada yang baru ditemukan dan diproyeksikan menjadi cagar alam. Sebagai orang Indonesia, tentu kita harus bangga akan kekayaan alam yang kita miliki ini. Janganlah jauh-jauh dulu ke Universal Studio atau Disneyland, mari kita telusuri Kota Sabang dengan panorama lautnya yang indah.

Sebagaimana kita tahu, Sabang adalah sebuah kota di ujung barat Indonesia. Pengalaman ini penulis dapat ketika mendapatkan tugas untuk mengajar di salah satu dayah di Aceh. Ketika liburan tiba, kami memutuskan untuk pergi berwisata ke Pulau Weh menuju Kota Sabang. Setelah persiapan yang matang, kami yang berjumlah 10 orang berangkat menuju pelabuhan Ulee Lheue. Pada mulanya pelabuhan ini tidak seperti yang saya dan kawan-kawan lihat. Ada banyak sekali guratan dan sisa-sisa renovasi pasca musibah tsunami beberapa tahun silam. Meski demikian, pelabuhan ini tampak sudah lebih baik dari sebelum tsunami datang. Pemandangan pelabuhan yang cukup memesona membuat kami penasaran tentang bagaimanakah keindahan alam di nol kilometer Indonesia itu. Pulau Weh yang sudah tampak akan segera kami "sambangi" dalam satu jam kedepan. 


Penulis dan seorang murid dari dayah di atas Kapal Feri


Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Meski dibilang cepat, akses menuju peristirahatan cukup lama. Kami sempat menunggu beberapa menit setelah tiba di Pelabuhan Sabang. Melihat pemandangan yang sangat indah, kami menyempatkan diri mengambil beberapa gambar dari sisi pantai Sabang yang membuat mata berdecak.



Setelah rombongan penjemput tiba, kami segera menuju peristirahatan di salah satu dayah di Sabang. Cuaca yang cukup panas membuat kami agak kelelahan. Meski demikian, rasa penasaran kami akan indahnya pantai Iboih dan megahnya tugu Nol Kilometer membuat kami tidak tahan beristirahat terlalu lama. Selang beberapa jam, kami segera bersiap untuk menuju tempat yang paling ingin kamu tuju yaitu Pantai Iboih.

Dari jauh nampaknya Pantai ini hampir sama dengan pantai-pantai yang lain. Tapi yang unik dari pantai ini adalah adanya konservasi karang batik beberapa kilometer dari Pulau Iboih. Karang Batik adalah semacam koloni terumbu karang yang memiliki corak seperti batik. Kami menyewa jasa perahu motor untuk berkeliling pulau rubiah dan menikmati keindahan alam yang menghadap ke Samudera Hindia. Dari pantai Iboih, pemandangan tidak begitu tampak karena terhalang oleh Pulau Rubiah. Tak sabar kami menunggu, kami segera menyewa peralatan snorkeling dan membeli beberapa camilan. Kami segera berangkat menuju Pulau Rubiah. Disanalah pengalaman Snorkeling pertama kali kami rasakan. Berenang dan menikmati keindahan bawah laut secara langsung membuat kami tak sabar. 



Pemandangan disekitar Pulau Rubiah tampak sangat indah. Beberapa tanaman menempel di dinding tebing pulau yang tidak dihuni oleh penghuni tetap. Dahulu, di pulau ini terdapat sebuah asrama haji yang akan diberangkatkan menggunakan kapal. Tapi seiring berjalannya waktu, asrama haji ini kini hanya sebatas gedung tak berpenghuni dan menjadi habitat lumut dan ilalang. Memang beberapa sisi dari Pulau Rubiah ini bersebelahan dengan laut dalam yang memungkinkan kapal laut merapat. Tapi disisi lainnya, keindahan pasir putih dan terumbu karang menjadi incaran kami semua.


Persiapan snorkeling
Setelah tiba disisi Pulau Rubiah, kami segera mengenakan peralatan snorkeling dan menyeburkan diri ke laut. Laut yang tidak terlalu dalam serta pelampung yang menempel dibadan tidak membuat kami khawatir untuk tenggelam. Disinilah kami melihat keindaha bawah laut yang sangat indah. Ikan-ikan berwarna-warni dan binatang laut tampak bersahabat jinak. Sempat penulis mengkhayal kalau-kalau datang sebuah mahluk aneh dari laut. Tapi ternyata, ikan yang berwarna-warni, terumbu karang yang sangat indah, serta anemon laut yang menari indah didepan kacamata renang kami membuat kami lebih betah tinggal didalam laut ketimbang didaratan. Seorang teman kami nekat melepas perlatan snorkelingnya dan menyelam menuju dasar laut untuk mengambil bintang laut yang masih menggeliat. Meski tampak seperti batu, bintang laut yang lucu bergerak-gerak ketika diangkat ke permukaan air. Beberapa ikan berduri tampak berlarian ketika kami coba untuk dekati. Sungguh panorama indah ini tak ingin kami lewatkan dengan segera.




Snorkeling di Pantai Iboih dan Rubiah


Lelah menikmati pemandangan laut, kami segera beristirahat dipinggir pantai yang berpasir putih. Beberapa ekor kera tampak bergelantungan didahan pohon. Pulau ini menyimpan banyak keindahan. Selesai beristirahat di kawasan snorkeling, kami berjalan menuju sisi pulau yang lain. Saat berjalan menyusur pulau, kamu menyaksikan sebuah Asrama Haji yang daritadi menjadi perbincangan. Meski tak berpenghuni tetap, Pulau Rubiah ini masih terhitung cukup terawat. Sesampainya disisi yang menghadap ke Samudra Hindia, kami melihat pemandangan laut lepas yang sangat indah. Disisi pantai ini terdapat beberapa rumah makan kecil dan musholla. Kami segera membersihkan diri dan bersegera menunaikan shalat.

Seusai shalat dan menikmati beberapa camilan yang kami bawa, kami berjalan menuju bebatuan besar yang bersebelahan langsung dengan laut dalam. Deburan ombak besar menghujam dinding batu meninggalkan embun tipis beterbangan. Tak lupa kami mengambil beberapa photo disini.

Cuaca sudah semakin sore, kami segera memutuskan untuk kembali ke Pulau Weh dan menuju tempat peristirahatan. Sepanjang jalan pulang, kami disuguhi pemandangan terumbu karang yang indah dari bawah kaca perahu motor. Kamu seperti meliaht akuarium tanpa batas. Sesampainya diatas konservasi Karang Batik, perahu motor dihentikan. Penulis dan seorang teman memiliki ide untuk masuk kebawah perahu dan direkam dari atas kaca. Nelayan kapal merekomendasikan agar tidak menggunakan peralatan snorkeling karena akan kesulitan ketika menuju bawah perahu. Hal itu pun penulis lakukan. Hanya bermodalkan kacamata renang, penulis terjun kelaut yang cukup dalam dan menyelam kebawah perahu. Rekan-rekan kami dari atas merekam aksi itu dengan kamera. Pemandangan disini ternyata lebih indah, tapi juga lebih menegangkan.

Karang Batik

Penulis di bawah kaca perahu

 Di hari kedua, kami berencana untuk berjalan-jalan menyusuri Pulau Weh saja. Pulau Rubiah yang indah sudah kami lewati di hari kemarin. Hari ini kita akan menyusuri Benteng Jepang dan Tugu Nol Kilometer Indonesia. Akses jalan menuju kedua tempat itu cukup sulit. Jalan sempit yang diapit jurang membuat supir kami harus lebih berhati-hati dalam membawa mobil. Pemandangan kera liar berkeliaran menghiasi perjalanan kami. Setelah melewati perjalanan yang cukup sulit, kami tiba disebuah Tugu yang menyiratkan nilai sejarah yang ama kental. Tugu Nol Kilometer Indonesia.

Tugu ini adalah ukuran nol kilometer Indonesia. Disini terdapat banyak relief keramik yang ditempel dibatu-batu sekitarnya. Ada dari club motor, hingga komunitas dan pecinta alam. Banyak sekali orang-orang yang juga telah menyambangi tempat ini. Tapi bagi kami, ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Penulis berfikir, bagaimana bisa pada zaman dahulu para pahlawan dan proklamator menentukan ujung negeri ini ditempat yang sangat terpencil. Tempat terpencil dan tidak dihuni oleh penduduk disekitarnya. Jalan yang terjal dan mendaki, serta alam yang masih alami, membuat penulis kagum akan bagaimana perjuangan para pendahulu untuk menyatakan hak milik pulau ini. Tiap meter pulau ini menelan nyawa, tiap meter pulau ini meminta pengorbanan, dan tiap meter pulau ini menyimpan perjuangan.

Setelah menikmati keindahan dan pesan nasionalisme dari tugu ini, kami beranjak ke Benteng Jepang beberapa kilometer dari tugu ini. Benteng Jepang ini tidak terlalu besar. Hanya ada beberapa ruang kecil dan bangunan dengan atap terbuka. Benteng ini menghadap ke laut lepas dengan beberapa tumpukan batu bekas tatakan meriam dibeberapa sisinya. Penulis membayangkan, bagaimana dahsyatnya zaman penjajahan hingga Jepang mampu membangun benteng ditempat yang terpencil ini. Banyak korban pada zaman penjajahan untuk ini semua.

Selesai dari benteng dan tugu, kami kembali ke peristirahatan dan menikmati malam hari di Sabang. Kota kecil ini menyimpan segudang keistimewaan meski terletak di paling ujung Indonesia. Meski di peta Sabang berada di paling ujung, namun keindahannya berada di hati yang paling dalam.

Hasil perjalanan penulis rangkai menjadi sebuah film pendek di sini Wisata Bahari Sabang

PCMI (2)


Ini adalah sesi kedua dari postingan gue sebelumnya. Setelah akhirnya gue nemu calung yang dimaksud, gue langsung latihan beberapa lagu yang bakal ditampilin pas ntar seleksi. Lagu yang pertama adalah opening anthem yang kalo gue pikir ini lagi mirip banget ama lagunya Eminem. Tapi berhubung ni alat musik sunda, jadi nadanya gak terlalu kedenger mirip secara irama dan instrumennya pake suara bambu. Lagu kedua yaitu Akang Haji Sorban Palid. Kalo denger judul lagunya, gue agak heran ama Pak Haji yang satu ini. Kenapa sorbannya mesti di-palid-kan (dihanyutkan) bahkan ampe jauh ke Cikapundung. Tapi yaudahlahya.... namanya juga judul lagu. Lagu yang ketiga gue siapin yaitu lagu Sabilulungan. Lagu ini ngingetin gue pas dulu ikutan Pecak Silat pas esde. Lagu keempat yaitu lagu Engklak-engklakan dan yang jadi pamungkas adalah lagu In The End dari Linkin Park. Gue dulu belajar calung pas masih di SMP jadi musikus buat acara Singa Depok. Dan alhamdulillah sekarang masih bisa dan lancar buat mainin calung.

Buat pembukaan perform gue juga nyiapin penampilan Suling Sunda. Instrumen suling kali ini emang gak ada lagunya. Ini cuma instrumen suling yang kadang suka kita denger pas ada acara nikahan atau acara tradisional lainnya. Kalo gue denger lagi, instrumen ini kaya nyeritain kehidupan yang dimulai dari pagi hari. Awal instrumen terdengar dengan nada rendah dan lambat. Namun semakin lama, irama semakin menaik dan tempo yang agak cepat. Lalu ditutup dengan instrumen lambat hingga musik berakhir.

Setelah persiapan oke, gue nyiapin buat debate ama slide presentasi. Sebenernya gue agak ragu buat ini. Tapi dengan jurus Man Jadda Wajada insya Allah gue yakin pasti bisa. Gue liat list-list peserta yang lolos kebanyakan dari semester atas. Bahkan ada yang sudah mahir dalam hal debat dan performance. Tapi tidak percaya diri pada saat seperti ini bukan hal yang tepat. Mau gak mau, bisa gak bisa, gue berusaha buat yakin dan bisa. Gue inget ama Ahmad Fuadi ketika ikut program yang sama, dia bisa menjajal itu semua dan akhirnya lolos dan tinggal di Kanada selama enam bulan. Zaman sudah maju, internet sudah bagus, dan materi sudah bukan hal sulit untuk didapat. Kemampuan kesenian insya Allah terkuasai, dan bismillah .... besok gue harus ke Dinas Pemuda dan Olahraga Jabar jam tujuh pas. Setelah semua siap, gue istirahat dan tidur .....

Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba ....

Gue berangkat ke Disorda ama teteh gue. Sesampainya di Kantor Disorda, gue liat para peserta seleksi lainnya. Ada yang sudah pakai kebaya, ada yang bawa robot batik, ada yang bawa aksesoris menari, dan ada yang membawa kendang. Semua gue lihat udah siap dengan persiapannya. Kalo udah gini, gue gak bisa keliatan nervous atau tegang. Gue berusaha stay cool dan terlihat siap buat seleksi. Gue ketemu ama temen gue dikampus Aris dan Tiara. Mereka mempersiapkan buat tampil tarian Jawa Barat. Gue yang cuma pake kemeja batik dan celana bahan agak merinding juga. Mereka bawa kostum seabrek sementara gue cuma bawa satu calung ama suling.  But .... the show must go on .....

Seleksi diawali dari Briefing oleh panitia. Panitia dan selektor adalah para alumni program pertukaran pemuda itu sendiri. Mereka yang sudah mengikuti program kini terhimpun menjadi satu dibawah naungan Purna Caraka Muda Indonesia atau PCMI. Ada yang sudah ke Kanada, Pelayaran Kapal Nippon Maru, Australia, dan Malaysia. Gue lihat mereka memang orang yang layak buat ikut. Pembawaan mereka dan cara mereka berbicara memang menunjukkan merekalah wakil Indonesia yang terpilih. Semangat pun membuncah, dan gue optimis akan itu semua.

"Selamat datang para calon peserta PPAN, saya harapkan anda siap mengikuti rangkaian seleksi pada hari ini. Seleksi akan diadakan hingga sore hari. Siapkan mental, pikiran, dan fisik. Tetap semangat!" Kang Tubagus Ari memberikan ucapan selamat datang.

Kali itu gue dapet giliran buat masuk ke interview panel lebih dulu. Interview masih menggunakan Bahasa Indonesia. Rekan gue satu tim ada yang dari ITB dua orang yaitu Wilma Zulianti, Fisika 2009 dan Ujang, Farmasi 2011 lalu dari UPI ada Saddam, Psikologi Pendidikan 2010, dan satu orang yang sudah lulus dan kini bekerja bernama Wulan. Interview panel pun dimulai disalah satu ruangan. Sistematikanya adalah para peserta ditanyai satu-satu dengan sebuah pertanyaan dan bilamana tidak mampu menjawab soal akan dilempar. Pertanyaan ada tiga kriteria yaitu Kepemimpinan, Pengetahuan Umum (perorangan) dan Pengetahuan Umum (perindividu).

Gue duduk tepat ditengah. Pertanyaan pertama diawali oleh Ujang. Pertanyaan masih seputar analisis tentang bagaimana bila kita dalam suatu kondisi dan harus memutuskan sebuah tindakan yang tepat. Misalnya bagaimana bila bawahan sulit diatur, bagaimana membangun tim yang solid, dan bagaimana menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah. Dan ketika soal sampe ke gue, gue mendapati ....

Bila kamu menjadi seorang pemimpin, dan kamu harus menentukan salah satu dari dua bawahan anda untuk naik jabatan, apa yang akan anda lakukan? Semantara kedua bawahan memiki kemampuan yang sama dan kualifikasi yang sama-sama bagus,

Gue berpikir bentar dan menjawab, "Saya akan melakukan pendekatan personal terlebih dahulu tentang visi misi mereka kedepan. Dalam sebuah organisasi atau perusahan, tentu kita memiliki visi dan misi yang harus dituju. Dengan melihat visi dan misi dari keduanya, saya akan melihat cara pandang mereka akan suatu tujuan. Kedua, saya akan melihat track record dari keduanya dan membandingkan mana yang lebih layak. Selanjutnya, saya akan bekonsultasi dengan Steering Committee atau pihak yang lebih tinggi bahkan memusyawarahkannya dengan staff lain tentang kepantasan mereka berdua,"

Fiuhh... satu pertanyaan selesai. 

Sesi selanjutnya yaitu pengetahuan umum. 

 Disini keliatannya atmosfer persaingan semakin kerasa. Tiap dari kita berusaha menjawab dengan jawaban yang terbaik. Dan kesika sesi ini tiba, kami benar-benar ngerasa the game just begins ..... dan tiap ada orang yang tidak mampu menjawab, kita saling mengacungkan tangan untuk menjawab semampu kita. Ada sebuah pertanyaan yang saat itu gue bener-bener ngerasa dungdung dan kurang wawasan. Pertanyaannya adalah, apa yang kamu tahu tentang Kyoto Protokol? Gue diem, Wulan diem, Wilma diem, Saddam diem, dan .... Ujang bicara ...

Kyoto protokol adalah ... bla bla bla ... bla bla bla ... bla bla bal .. hal ini terjadi karena bla bla bla... bla bla bla ... bla bla bal ... dan dari itu semua, bla bla blaa ... bla bla bala ... bla bla bla.....

Gue baru tahu kalo Kyoto Protokol adalah Amandemen dari Hasil Kerja PBB (Cek disini) 

Pertanyaan selanjutnya adalah soal rebutan. Suasana bener-bener panas. Kita yang tadinya diluar ngobrol-ngobrol dan becanda ringan, kini menjadi saingan satu sama lain. Panitia sedikit kasih pengarahan dan akhirnya pertanyaan pun dimulai ....

Siapakah Wright bersaudara? *Ujang menjawab
Siapakah Aristoteles? *Gue menjawab tapi kurang lengkap
Siapakah Mahatma Gandhi? *Gue telat, Wilma yang jawab
Siapakah .....Gue lupa pertanyaan tentang tokoh apa lagi .... huhuuh

"Sekarang tempat-tempat bersejarah, yang bisa menjawab langsung angkat tangan,"
Dimanakah ......
Dimanakah .....
Dimaanakah .....

Ujang, Wilma ada Wulan udah banyak jawab, gue selalu kalah cepet, damn!

Dimanakah Macchu Piccu? *Gue angkat tangan dan .....
"Peru!"

Dimanakah Hagia Safhiya, hmmmm .....dibacanya Aya Shafiya? 

Dengan yakin gue angkat tangan, "Turki!"

Interview panel selesai ... kita keluar ruangan dan masuk ke sesi selanjutnya yaitu

Debate Session .....

Translate it

ChineseFrenchGermanItalianJapaneseEnglishRussianSpanish