Rabu, 15 Agustus 2012

Hei Kamu

Aku tahu manusia diberi pikiran dan akal oleh Tuhan. Mungkin saat ini, fungsi akal itu tidak berjalan secara normal. Mengapa? Aku terdiam dalam sebuah perjalanan. Perjalanan penuh tantangan, cobaan, dan kadang hal-hal yang tidak dapat dikira sebelumnya. Perjalanan yang menurutku masih bisa berubah arah dan haluannya. Namun tak apa, aku merasa hal ini bukan hal janggal. Setiap manusia merasakannya. Setiap yang bernyawa pasti mengalaminya.

Namun, tahukah bila apa yang sedang aku usahakan terkadang bias. Ketika aku ingin menunjukkan A, maka yang tampak adalah B. Ketika aku ingin memberikan C, maka yang terlihat adalah D. Aku tahu, itu sangatlah sulit ditebak. Terkadang aku merasa apa yang aku usahakan selama ini akan membuyar. Tapi terkadang ada keyakinan dalam diriku bahwa aku mampu melewati ini dan meyakinkan semuanya. Namun entahlah, hingga saat ini, aku melihatnya masih banyak teringat dengan hal-hal yang ia lalui. Bersamanya. Hal itu memang manusiawi. Terkadang, akupun demikian.

Aku hanya ingin memulai perjalanan baru. Dengan keyakinan, dan dengan seseorang yang mampu mendengar keluh kesahku, mendengar gagasan gilaku, berbagi hal senang atau susah, melewati masa pahit atau manis. Yahhh ,,, melewati segala takdir Tuhan bersama. 

Melihat semua yang terjadi, aku hanya bisa menggunakan hal terakhir yang aku punya. IKHLAS. Yah, aku hanya bisa ikhlas. Meski ku tahu ikhlas adalah hal tersulit bagi siapapun dalam kondisi apapun. Ikhlas menerima apa yang terjadi, apa yang belum terjadi, dan apa yang akan terjadi. Aku sudah ikhlaskan semuanya. Bagaimanapun hasilnya nanti, bagaimanapun yang terjadi, aku sudah ikhlaskan. Semua yang aku usahakan, semua yang aku perjuangkan, aku sudah ikhlaskan. Mungkin pembuktianku kurang cukup kuat untuknya. Tak apa, aku sudah ikhlaskan.

Yap … ikhlas, atau belajar ilmu ikhlas. Biar hati kecil ini yang menuntunku. Akan kudengar sekecil apapun teriakan dan ucapan. Dan, semua ini harus diakhiri dengan

Keikhlasan.

Sabtu, 21 Juli 2012

Entah apa judulnya

Lama banget nih gak share lagi ama sobat blogger. Yeah.. kemarin emang lagi bener-bener disibukkan dengan banyak kegiatan. Dari mulai ngurus P2M, sampai Model United Nations di Universitas Diponegoro. Semuanya memang banyak menyita perhatian bahkan tenaga. Tapi dari ini semua, gue bener-bener bersyukur banget. Udah dikasih kemudahan dan kesehatan. Sampai akhirnya, semua acaranya sukses dan lancar.

Kadang manusia punya sisi yang orang lain tidak ingin tahu. Itu dapat dideteksi dari tulisan, perkataan, dan kebiasaan yang dia lakukan. Mungkin hal itu terjadi juga ama gue. Beberapa saat ini, untuk menuangkan pendapat, pikiran, dan ide dalam tulisan harus benar-benar tersaring dan terjaga. Banyak spekulasi dari orang-orang di sekeliling kita. Yang bisa jadi menguntungkan bahkan merugikan. Menguntungkan apabila spekulasi itu mendorong kita untuk menjadi lebih maju, merugikan apabila spekulasi itu hanya bersifat penilaian subyektif. Subyektifitas yang berisi penilaian negatif.

Gue bener-bener tertarik ama statement ini

Hati-hati dengan ucapanmu karena itu bisa menjadi pemikiranmu
Hati-hati dengan pikiranmu karena itu bisa menjadi tindakanmu
Hati-hati dengan tindakanmu karena itu bisa menjadi kebiasaanmu
Hati-hati dengan kebiasaanmu karena itu bisa menjadi nasibmu
Hati-hati dengan sikapmu terhadap nasib, karena itu bisa menjadi takdirmu ....

Hebat ....

Jumat, 15 Juni 2012

PCMI (3)


Setelah menyelesaikan sesi interview panel, gue ama tim gue beranjak menuju ruang debat. Ketika masuk ruangan, sudah ada Adjudicators dan peserta lain yang akan melawan tim kami. Kami melihat raut wajah mereka, santai tapi seolah siap menerkam kami. Gue gak tahu apa-apa soal debate especially pake bahasa Inggris. Waktu latihan di EDC juga gue cuma jadi adju dan gak ikut cas-cis-cus latihan debat. Disaat kaya gini, akhirnya gue pake jurus andalan gue. “Pura-pura bisa”. Gue langsung gabung ama tim dan siap-siap ngobrolin apa yang mau didebatin. Setelah adju ngasih topic yaitu “University student protest” kita masuk ruangan lain buat case building. Disitu gue ama tim ngerangkai apa yang bakal kita pertahanin dan mana yang bakal kita kritisin. Sebagai opposite team, kita harus matahin argument dari tim lawan. Setelah beres case building, kita langsung masuk ruangan debat dan memulai sesi.

Sesi debat dilakukan parallel. Setelah tim lawan membuka debat, selanjutnya tim kami bergiliran memberikan argument, lalu tim lawan, lalu tim kami, dan seterusnya. Ketika giliran tiba ama gue, gue berdiri dan langsung cas-cis-cus sekenanya. Emang agak gugup, tapi disaat kaya gini gue harus stay cool and confident. Beres ngasih argument, gue langsung duduk dan menghela napas panjang. Akhirnya …..

Setelah sesi debate selesai, kita langsung menuju ruangan aula buat nunggu penampilan seni budaya. Ini yang gue tunggu-tunggu. Gue langsung latihan beberapa lagu yang udah gue coba dirumah. Ada yang bawa Ronteng (Saron Tengteng), suling bamboo, biola, gitar, bahkan ada yang nyiapin Hip-hop Dance. Kalo udah kaya gini, gue ngerasa semangat banget. Atmosfir seni kerasa banget di sesi ini.

Panitia membuka pintu dan mempersilakan kami masuk ke aula. Disana udah ada kelompok lain yang lagi perform. Ada yang nampilin tarian, bahkan ada yang menyanyikan lagu “Abi teh ayeuna gaduh hiji boneka”. Mungkin penampilan kesenian memang menjadi kendala bagi beberapa orang. Kalo ngebahas diskusi, debat, atau pengetahuan lain banyak yang antusias. Tapi ketika berhadapan dengan penampilan seni budaya, banyak yang bingung mau ngapain.

Setelah giliran tim kami tiba, satu persatu dari kami dipanggil kedepan. Yang siap buat penampilan, mereka keliatan pede pas perform. Lucunya, bahkan ada peserta yang saat itu baru dateng banget dari Jakarta ikutan demo kenaikan BBM. Dia bilang gak ada persiapan apa-apa buat ini semua dan dia bakal tampil seadanya. Dia nampilin lagu Bubuy Bulan pake gitar sambil ngelucu. Pas ditanya bisa nari apa gak, dia jawab “Saya bisa silat!”. Langsung dia praktekin gerakan silat yang juga sekenanya. Juga ada seorang pemuda yang ternyata seorang staff ahli anggota dewan di bidang ekonomi. Dia nampilin ceramah ala MZ pake Bahasa Sunda. Baru kali ini gue liat ada pendemo dan yang didemo bersatu dan bersahabat disini. Ada pula seorang pemuda yang nampilin story telling pake Bahasa Prancis. Gue makin bergidik liat orang-orang hebat disini.
Akhirnya nama gue dipanggil. Gue langsung menjinjing calung dan suling yang udah gue siapin. Setelah ngasih sedikit penjelasan apa itu calung, gimana cara maennya, dan macem-macem calung pake bahasa Inggris, gue mulai penampilan gue dengan tiupan suling lalu calung pun gue pukul…..



Alhamdulillah penampilan kali ini respon  yang gue dapet baik. Penonton ngasih support dengan tepuk tangan. Pas ditanya bisa apa aja, gue jawab apa yang gue bisa. Dari suling, harmonica, organ, gitar, bass, dan alat music lain yang gue bisa. Pas ditanya “bawa gak alatnya?” gue jawab “Enggak,” para penguji bilang “Waah, kenapa gak dibawa?" Gue juga bingung, soalnya yang gue siapin kesenian sunda. Ya alat-alat music lain nangkring dirumah gak kemana-mana. Seorang penguji nanya lagi, “Kamu bisa apa lagi?” Inget seorang peserta nampilin story telling pake bahasa Prancis, gue ada ide buat bacain broadcast pake bahasa Arab. 

Dan penguji pun mempersilakan,

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kaifa halukum ayuha thalabah? Hal antum bikhair? Aiwah …
Alyaum assabt ala asyir min marisy sanata alfaini wa istna asyr. Yaqumu baina hadratikum jami’an ahadu rijali min qismil I’lamil markazi limunazomati tholabati Darissalamil hadist, littarbiyatil islamil hadistah Guntur Funuruqu.
Litabligikum al’idza’ah alyaumiyah allati tasymalu ala I’lanatin syatta wa da’waatin idadah wa risalati addu’.
Tamhidan waftitahan lihadzihi nasyrah al arabiyah uballigukum awala alihi risalata addua.
Ikhwati… kunnal ana fi halatil huzni wal ka’abah. Anna min ba’dhi ikwatinal madzkurah asma’ahum adna hadzihil waraqah qod ashobahumu saqam hatta layaqdiru ala ta’diyati wjibatihim alyaumiyah ….
Abis gue bacain broadcast, penguji cuma diem-diem aja. Wajah mereka bilang gak ngerti apa yang gue ucapin tadi. Broadcast tadi emang biasa gue denger pas masih sekolah di Madani setiap harinya. Ternyata, pengalaman itu bisa gue praktikin disini.Hhehehe ….

Seorang penguji nanya lagi, “Tadi kamu bilang bisa main gitar, coba praktikin. Itu peserta yang punya gitar, coba pinjam sebentar.” Wah .. gue bingung, gue gak bisa nyanyi. Tapi kalo maen gitar bisa aja, gue bingung harus tampil apa. Gue inget lagu instrument Depapepe yang judulnya Start. Yaudah, gue nyari aman aja, secara lagunya Depapepe gak ada nyanyinya. Alhamdulillah penampilan beres dan memuaskan.

Beres penampilan seni budaya, gue beranjak  ke sesi presentasi dan interview pribadi. Waktu ketika itu udah ampir jam 4 sore. Kami udah pada capek nunggu, tapi ya buat program kaya gini, semua harus siap.

Disesi interview pribadi ini, gue ada cerita. Pas nunggu giliran dipanggil satu persatu, para interviewee mengeluh tentang pertanyaan yang diajukan. Soalnya mereka ditanya pengen ke  Negara apa untuk program ini, dan ditanya siapakah Perdana Menteri negara tersebut. Yang pengen ke Korea ditanya siapa PM Korea, yang pengen ke Kanada siapa PM Kanada. Gue ketika itu milih pengen ke Australia, lalu gue nanya ama temen gue yang tadi stortel pake bahasa Prancis, siapa PM Australia. Dia bilang, Julia Gillard. Berebapa detik gue nanya itu, gue langsung dipanggil.

Dalem ruangan interview, gue ditanya segala hal dari mulai motivasi ikut program ini, apa rencana kamu kedepan, apa yang akan dilakuin kalo keterima dan pertanyaan lainnya. Gue jawab semuanya dengan tenang. Alhamdulillah gue ngerasa lancar banget pas ngejawab. Dan ketika penanya bilang

“Okay, now is the last question. Who is the prime minister of Australia?”

Dengan yakin (baru nanya barusan) gue jawab “ Julia Gillard,”

Penanya langsung ketawa ngakak dan bilang “Good, from all participants, they couldn’t answer this kind of question. See you at the next session. Good luck!”

Gue ngos-ngosan keluar ruangan….

Dan ngakak ama temen yang gue tadi tanya, “Untung gue nanya ama lu! Hahaha,”

Rabu, 13 Juni 2012

Sabang, Ujung Indonesia Dalam di Hati

Indonesia memang tidak akan pernah  habis bila diceritakan. Apalagi keindahan alam dan panorama yang luar biasa ternyata masih banyak yang belum terjamah oleh manusia. Bahkan beberapa ada yang baru ditemukan dan diproyeksikan menjadi cagar alam. Sebagai orang Indonesia, tentu kita harus bangga akan kekayaan alam yang kita miliki ini. Janganlah jauh-jauh dulu ke Universal Studio atau Disneyland, mari kita telusuri Kota Sabang dengan panorama lautnya yang indah.

Sebagaimana kita tahu, Sabang adalah sebuah kota di ujung barat Indonesia. Pengalaman ini penulis dapat ketika mendapatkan tugas untuk mengajar di salah satu dayah di Aceh. Ketika liburan tiba, kami memutuskan untuk pergi berwisata ke Pulau Weh menuju Kota Sabang. Setelah persiapan yang matang, kami yang berjumlah 10 orang berangkat menuju pelabuhan Ulee Lheue. Pada mulanya pelabuhan ini tidak seperti yang saya dan kawan-kawan lihat. Ada banyak sekali guratan dan sisa-sisa renovasi pasca musibah tsunami beberapa tahun silam. Meski demikian, pelabuhan ini tampak sudah lebih baik dari sebelum tsunami datang. Pemandangan pelabuhan yang cukup memesona membuat kami penasaran tentang bagaimanakah keindahan alam di nol kilometer Indonesia itu. Pulau Weh yang sudah tampak akan segera kami "sambangi" dalam satu jam kedepan. 


Penulis dan seorang murid dari dayah di atas Kapal Feri


Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Meski dibilang cepat, akses menuju peristirahatan cukup lama. Kami sempat menunggu beberapa menit setelah tiba di Pelabuhan Sabang. Melihat pemandangan yang sangat indah, kami menyempatkan diri mengambil beberapa gambar dari sisi pantai Sabang yang membuat mata berdecak.



Setelah rombongan penjemput tiba, kami segera menuju peristirahatan di salah satu dayah di Sabang. Cuaca yang cukup panas membuat kami agak kelelahan. Meski demikian, rasa penasaran kami akan indahnya pantai Iboih dan megahnya tugu Nol Kilometer membuat kami tidak tahan beristirahat terlalu lama. Selang beberapa jam, kami segera bersiap untuk menuju tempat yang paling ingin kamu tuju yaitu Pantai Iboih.

Dari jauh nampaknya Pantai ini hampir sama dengan pantai-pantai yang lain. Tapi yang unik dari pantai ini adalah adanya konservasi karang batik beberapa kilometer dari Pulau Iboih. Karang Batik adalah semacam koloni terumbu karang yang memiliki corak seperti batik. Kami menyewa jasa perahu motor untuk berkeliling pulau rubiah dan menikmati keindahan alam yang menghadap ke Samudera Hindia. Dari pantai Iboih, pemandangan tidak begitu tampak karena terhalang oleh Pulau Rubiah. Tak sabar kami menunggu, kami segera menyewa peralatan snorkeling dan membeli beberapa camilan. Kami segera berangkat menuju Pulau Rubiah. Disanalah pengalaman Snorkeling pertama kali kami rasakan. Berenang dan menikmati keindahan bawah laut secara langsung membuat kami tak sabar. 



Pemandangan disekitar Pulau Rubiah tampak sangat indah. Beberapa tanaman menempel di dinding tebing pulau yang tidak dihuni oleh penghuni tetap. Dahulu, di pulau ini terdapat sebuah asrama haji yang akan diberangkatkan menggunakan kapal. Tapi seiring berjalannya waktu, asrama haji ini kini hanya sebatas gedung tak berpenghuni dan menjadi habitat lumut dan ilalang. Memang beberapa sisi dari Pulau Rubiah ini bersebelahan dengan laut dalam yang memungkinkan kapal laut merapat. Tapi disisi lainnya, keindahan pasir putih dan terumbu karang menjadi incaran kami semua.


Persiapan snorkeling
Setelah tiba disisi Pulau Rubiah, kami segera mengenakan peralatan snorkeling dan menyeburkan diri ke laut. Laut yang tidak terlalu dalam serta pelampung yang menempel dibadan tidak membuat kami khawatir untuk tenggelam. Disinilah kami melihat keindaha bawah laut yang sangat indah. Ikan-ikan berwarna-warni dan binatang laut tampak bersahabat jinak. Sempat penulis mengkhayal kalau-kalau datang sebuah mahluk aneh dari laut. Tapi ternyata, ikan yang berwarna-warni, terumbu karang yang sangat indah, serta anemon laut yang menari indah didepan kacamata renang kami membuat kami lebih betah tinggal didalam laut ketimbang didaratan. Seorang teman kami nekat melepas perlatan snorkelingnya dan menyelam menuju dasar laut untuk mengambil bintang laut yang masih menggeliat. Meski tampak seperti batu, bintang laut yang lucu bergerak-gerak ketika diangkat ke permukaan air. Beberapa ikan berduri tampak berlarian ketika kami coba untuk dekati. Sungguh panorama indah ini tak ingin kami lewatkan dengan segera.




Snorkeling di Pantai Iboih dan Rubiah


Lelah menikmati pemandangan laut, kami segera beristirahat dipinggir pantai yang berpasir putih. Beberapa ekor kera tampak bergelantungan didahan pohon. Pulau ini menyimpan banyak keindahan. Selesai beristirahat di kawasan snorkeling, kami berjalan menuju sisi pulau yang lain. Saat berjalan menyusur pulau, kamu menyaksikan sebuah Asrama Haji yang daritadi menjadi perbincangan. Meski tak berpenghuni tetap, Pulau Rubiah ini masih terhitung cukup terawat. Sesampainya disisi yang menghadap ke Samudra Hindia, kami melihat pemandangan laut lepas yang sangat indah. Disisi pantai ini terdapat beberapa rumah makan kecil dan musholla. Kami segera membersihkan diri dan bersegera menunaikan shalat.

Seusai shalat dan menikmati beberapa camilan yang kami bawa, kami berjalan menuju bebatuan besar yang bersebelahan langsung dengan laut dalam. Deburan ombak besar menghujam dinding batu meninggalkan embun tipis beterbangan. Tak lupa kami mengambil beberapa photo disini.

Cuaca sudah semakin sore, kami segera memutuskan untuk kembali ke Pulau Weh dan menuju tempat peristirahatan. Sepanjang jalan pulang, kami disuguhi pemandangan terumbu karang yang indah dari bawah kaca perahu motor. Kamu seperti meliaht akuarium tanpa batas. Sesampainya diatas konservasi Karang Batik, perahu motor dihentikan. Penulis dan seorang teman memiliki ide untuk masuk kebawah perahu dan direkam dari atas kaca. Nelayan kapal merekomendasikan agar tidak menggunakan peralatan snorkeling karena akan kesulitan ketika menuju bawah perahu. Hal itu pun penulis lakukan. Hanya bermodalkan kacamata renang, penulis terjun kelaut yang cukup dalam dan menyelam kebawah perahu. Rekan-rekan kami dari atas merekam aksi itu dengan kamera. Pemandangan disini ternyata lebih indah, tapi juga lebih menegangkan.

Karang Batik

Penulis di bawah kaca perahu

 Di hari kedua, kami berencana untuk berjalan-jalan menyusuri Pulau Weh saja. Pulau Rubiah yang indah sudah kami lewati di hari kemarin. Hari ini kita akan menyusuri Benteng Jepang dan Tugu Nol Kilometer Indonesia. Akses jalan menuju kedua tempat itu cukup sulit. Jalan sempit yang diapit jurang membuat supir kami harus lebih berhati-hati dalam membawa mobil. Pemandangan kera liar berkeliaran menghiasi perjalanan kami. Setelah melewati perjalanan yang cukup sulit, kami tiba disebuah Tugu yang menyiratkan nilai sejarah yang ama kental. Tugu Nol Kilometer Indonesia.

Tugu ini adalah ukuran nol kilometer Indonesia. Disini terdapat banyak relief keramik yang ditempel dibatu-batu sekitarnya. Ada dari club motor, hingga komunitas dan pecinta alam. Banyak sekali orang-orang yang juga telah menyambangi tempat ini. Tapi bagi kami, ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Penulis berfikir, bagaimana bisa pada zaman dahulu para pahlawan dan proklamator menentukan ujung negeri ini ditempat yang sangat terpencil. Tempat terpencil dan tidak dihuni oleh penduduk disekitarnya. Jalan yang terjal dan mendaki, serta alam yang masih alami, membuat penulis kagum akan bagaimana perjuangan para pendahulu untuk menyatakan hak milik pulau ini. Tiap meter pulau ini menelan nyawa, tiap meter pulau ini meminta pengorbanan, dan tiap meter pulau ini menyimpan perjuangan.

Setelah menikmati keindahan dan pesan nasionalisme dari tugu ini, kami beranjak ke Benteng Jepang beberapa kilometer dari tugu ini. Benteng Jepang ini tidak terlalu besar. Hanya ada beberapa ruang kecil dan bangunan dengan atap terbuka. Benteng ini menghadap ke laut lepas dengan beberapa tumpukan batu bekas tatakan meriam dibeberapa sisinya. Penulis membayangkan, bagaimana dahsyatnya zaman penjajahan hingga Jepang mampu membangun benteng ditempat yang terpencil ini. Banyak korban pada zaman penjajahan untuk ini semua.

Selesai dari benteng dan tugu, kami kembali ke peristirahatan dan menikmati malam hari di Sabang. Kota kecil ini menyimpan segudang keistimewaan meski terletak di paling ujung Indonesia. Meski di peta Sabang berada di paling ujung, namun keindahannya berada di hati yang paling dalam.

Hasil perjalanan penulis rangkai menjadi sebuah film pendek di sini Wisata Bahari Sabang

Translate it

ChineseFrenchGermanItalianJapaneseEnglishRussianSpanish